Kamis, 30 Mei 2013
hati yang lapang
tak selamanya diri kita bahagia
tapi bisa kita buat hati ini lapang
tak hanya berbahagia atas diri sendiri
namun suka cita ketika orang lain bahagia
Selasa, 28 Mei 2013
awal pagi
awali pagi dengan senyuman
awali pagi dengan semangat
ini bukan rutinitas pagi
ini adalah pagi yang baru
hari yang baru, ada tantangan lain
untuk hari yang lebih baik
Senin, 27 Mei 2013
benar
bahwa anda tidak sedang tidur, memang benar
kalau anda sedang tidak mabuk, itu betul
bila anda kira sedang sehat, sungguh nyata
anda sedang berada di alam dunia, yang pasti berakhir..
namun harus diperjuangkan..
Sabtu, 25 Mei 2013
Amalan Bagian dari Iman
Amalan adalah bagian dari iman, bukan syarat penyempurna atau syarat sah. Iman harus terdapat tiga unsur yaitu keyakinan, ucapan dan amalan. Tanpa adanya amalan, walau ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman. Inilah yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ibnu Taimiyah menjelaskan mengenai masalah iman yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab beliau Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah,
فَصْلٌ : وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ .
“Fasal: Di antara pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa agama dan iman terdiri dari: perkataan dan amalan, perkataan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman itu bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”
Perkataan di atas menunjukkan bahwa iman itu terdiri dari tiga komponen yaitu: (1) i’tiqod (keyakinan), (2) perkataan, (3) amalan.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa iman terdiri dari tiga rukun di atas disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).
Perkataan ‘laa ilaha illallah’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalanan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan keyakinan ahlu sunnah di atas. Sehingga iman yang benar jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan.
Sekarang yang sering dipermasalahkan, apakah amalan itu syarat sah iman ataukah syarat penyempurna iman?
Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah menerangkan,
“Kami katakan: amalan termasuk bagian dari iman (rukun dari iman), bukan syarat sah, bukan pula syarat penyempurna iman. Siapa yang mengatakan bahwa amalan adalah syarat iman, maka kami katakan itu keliru. Karena amalan adalah bagian dari iman. Jika disebut syarat, maka berada sebelum sesuatu dan bukan merupakan bagian dari sesuatu tersebut.
Sebut saja, thoharoh (bersuci) merupakan syarat sah shalat. Apakah thoharoh merupakan bagian dari shalat? Atau thoharoh adalah sesuatu yang berdiri sendiri sebelumnya? Kalau disebut syarat, letaknya sebelum atau ada kaitan langsung, atau sesuatu pekerjaan yang berdiri sendiri. Jadi rukun itu adalah bagian dari sesuatu. Semacam ruku’ adalah rukun shalat dan ia merupakan bagian dari shalat.” (Syarh Mutun Al ‘Aqidah – Ushulus Sunnah Imam Ahmad, hal. 60).
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Islam itu tidak cukup keyakinan di hati saja, ditambah dengan ucapan ‘laa ilaha illallah di lisan’, namun harus pula ada amalan. Sehingga jadi permasalahan besar jika seseorang muslim tidak punya amalan shalat.
Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi hidayah.
—
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 11 Rajab 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
Jumat, 24 Mei 2013
Senin, 20 Mei 2013
Minggu, 19 Mei 2013
Sabtu, 18 Mei 2013
senja yang berharga
senja selalu menarik untuk dinikmati
lambang sebuah kebijaksanaan
menjelang akhir sore yang harus bermakna
suatu waktu yang tak setiap dari kita melaluinya
namun tetap ia persiapkan
suka tidak suka, mau tak mau..
senja itu akan berakhir atau tak ia lalui
namun akhir itu bukan yang terakhir
ada hari setelah itulah yang sangat berharga..
jangan kau pertaruhkan hari itu
lambang sebuah kebijaksanaan
menjelang akhir sore yang harus bermakna
suatu waktu yang tak setiap dari kita melaluinya
namun tetap ia persiapkan
suka tidak suka, mau tak mau..
senja itu akan berakhir atau tak ia lalui
namun akhir itu bukan yang terakhir
ada hari setelah itulah yang sangat berharga..
jangan kau pertaruhkan hari itu
Sabtu, 11 Mei 2013
Kamis, 09 Mei 2013
Rabu, 08 Mei 2013
sementara
seluas-luasnya dunia akan sirna
setinggi-tinggi impian akan habis
sebesar-besar harapan.. akan tinggal cerita
namun hidup kekal abadi, itu pasti..
pantaslah kita, bila selalu mengusahakan hari itu..
Senin, 06 Mei 2013
Tafakur
suatu hal yang nafas itu paling baik dihabiskan adalah mentafakuri ayat-ayat Allah dan keajaiban ciptaan Allah (ibn Qayyim)
Sabtu, 04 Mei 2013
Langganan:
Postingan (Atom)














